Tidak semua anak memiliki kesempatan yang beruntung untuk sekolah, masih banyak anak yang terlantar yang tidak bisa malanjutkan sekolahnya. Manakala keluarga dengan penghasilan berkecukupan bisa menyekolahkan anaknya  dari jenjang level terendah hingga ke tingkat tertinggi, tetapi beda cerita nya dengan anak dari keluarga yang kurang mampu. Di indonesia, kini tidak sedikit anak bisa beresekolah, alias masih banyak anak yang sebenarnya ingin bersekolah namun tidak bisa karena banyak halangan dan banyak pertimbangan yang membuat mereka putus harapan untuk mengenyam pendidikan.

Contohnya saja di berbagai daerah kecil atau di sebuah desa atau kampung yang jauh nan disana, banyak kepala keluarga harus bekerja keras demi anak dan istri tetapi hanya bisa dan hanya cukup untuk makan sehari – hari saja, beda dengan keluarga yang tinggal di perkotaan besar yang notabene memang lebih banyak keluarga yang mampu ketimbang keluarga yang tidak mampu nya. Tetapi meskipun hidup di perkotaan , tidak di pungkiri bahwa mereka bisa menyekolahkan anak – anak nya, ada juga yang tidak bisa. Potret pendidikan anak pada masa kini bukannya semakin baik, malah semakin berkurang. Seperti yang sudah di tuturkan di atas, sebagaimana pemerintah berupaya agar semua anak indonesia bisa bersekolah dengan layak rupanya merupakan usaha yang belum maksimal, toh nyatanya masih banyak anak yang lebih memilih untuk tidak melanjutkan sekolah bahkan untuk bersekolah sekalipun mereka enggan melakukannya.

Dari semua rencana pemerintah untuk bisa menyekolahkan anak indonesia, terdapat beberapa program khusus,  tercantum pada Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019, Wajib Belajar 12 tahun ditetapkan sebagai salah satu prioritas pembangunan pendidikan. Sasaran Wajar 12 Tahun ini mencakup seluruh warga negara Indonesia khususnya yang berusia 6 – 21 tahun agar dapat mengenyam dan menuntaskan pendidikan dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Tetapi hal itu rasanya tidak memungkinkan bagi anak yang berasal dari keluarga kurang mampu,. Menurut data Susenas 2017, diperkirakan ada 4,4 juta anak usia sekolah ( usia 7 – 18 tahun) yang tidak bersekolah, bisa di bayangkan betapa banyak nya anak yang terlantar tidak bisa bersekolah ? mereka mungkin melakukan kegiatan sehari – hari dengan mengamen, mengemis, membantu orang tua bekerja, atau yang lebih miris nya mereka hanya bisa melihat anak – anak lain bersekolah, sementara dirinya hanya bisa manatap dan merasa miris bahwa dirinya tidak seberuntung anak di luar sana yang bisa bersekolah.

Oh sayangnya, sebenarnya banyak anak indonesia yang ingin melanjutkan bersekolah, namun apa daya mereka tidak mendapatkan bala bantuan yang di berikan oleh pemerintah karena berbagai macam hal terutama adalah korupsi, banyak uang yang di gelontoran untuk biaya bersekolah namun nyatanya tidak sampai pada yang membutuhkan karena akibat korupsi dari pihak kaum elit, padahal uang atau dana yang di keluarkan olehpemerintah tidak lah sedikit namun sangat banyak bahkan pemerintah mengeluarkan hingga triliunan rupiah.

Bagi seseorang yang beruntung untuk bisa bersekolah, mereka patut bersyukur karena bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Tidak seperti di daerah dengan kebanyakan keluarga kurang mampu, meskipun anak – anak nya bisa bersekolah namun kondisi sekolah dan perjalanan juga kualitasnya sangat tidak layak, atap nya bocor , kursi “reot”, guru  yang kurang dan bahkan masih banyak guru yang tidak di gaji sama sekali untuk bisa mengajaar dalam satu sekolah.  Jadi bagaimana kelajutan dari potret pendidikan anak indonesia masa kini? Apakah akan terus seperti ini atau akan di rubah sedikit demi sedikit ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *